Sunday, October 25, 2009

Salasilah Moyang Hj. Abu Kari (Arwah)













Selamat datang ke Laman Moyang Kari

Tan Sri/Puan Sri/Dato'/Datin/Tuan/Puan/Sdra/Sdri
Saudara mara yang dikasihi sekelian.

Nama saya Munzir Abdullah Sani dan saya ialah Webmaster laman ini.

Laman ini dibina menggunakan blogspot.com. Ianya bertujuan bagi mengenal ahli-ahli keluarga terdahulu dan terkini bagi merapatkan lagi perhubungan kekeluargaan, selain dari mengetahui asal keturunan mereka.

Peringkat teratas dalam salasilah ini adalah berteraskan dari SUKU TIGA BATU iaitu salah satu suku minang, dimana susur galur dalam carta ini bersukukan "SUKU TIGA BATU ".

Laman ini juga berkisar kepada keturunan MOYANG KARI (Arwah) dimana masih ramai sanak saudara yang mempunyai kenangan semasa hidupnya beliau. Ada diantara sanak-saudara yang tidak tahu cara memanggil diantara mereka dan dengan cara ini, mereka akan tahu bagaimana, diaras mana mereka sebenarnya dan dengan itu tahulah mereka bagi memanggil peringkat yang teratas dari mereka.

Berkemungkinan besar terdapat seseorang yang mempunyai pertalian kepada sesiapa sahaja yang tercatat didalam ruangan ini, jika ianya tidak tertulis ataupun hilang dari dalam carta ini bolehlah berhubung dengan nine_w2ze@yahoo.com.sg bagi mengemaskinikannya. Selain itu juga sesiapa sahaja boleh menjadi AHLI dalam laman ini dan akan diberikan laluan bagi mengemaskinikan bahagian mereka.

Jika anda ada sebarang komen atau maklum balas mengenai laman ini, sila klik di sini untuk menghubungi saya. Jika terdapat sebarang kesilapan nama ataupun data-data yang perlu dibuat penambahan silalah menghubungi saya untuk tujuan tersebut.


Laman salasilah MOYANG-KARI ini telah melalui kemas kini terakhir pada 25 Oktober 2009, dan ia kini mempunyai beberapa ahli berdaftar dan beberapa pengikut salasilah ini.

Nikmatilah!

Saturday, October 24, 2009

Moyang Kari - Asal Usul Minangkabau

Asalnya Minangkabau

3. Asal Usul Kata Minangkabau Orang-orang Majapahit tidak ketinggalan mencoba kecerdasan dan kecerdikan orang-orang dari Gunung Merapi ini. Pada suatu hari mereka membawa seekor kerbau besar dan panjang tanduknya, kecil sedikit dari gajah.

Mereka ingin mengadakan pertandingan adu kerbau. Ajakan mereka itu diterima baik oleh kedua datuk yang tersohor kecerdikannya dimana-mana itu, yaitu Dt. Katumanggungan dan Dt. Parpatih nan Sabatang. Taruhannya adalah seperti dulu-dulu juga, yakni kapal pendatang dengan segala isinya, dan taruhan datuk yang berdua itu ialah kerajaan mereka sendiri. Waktu tiba saatnya akan mengadu kerbau, setelah kerbau Majapahit dilepaskan di tengah gelanggang, orang banyak riuh bercampur cemas melihat bagaimana besarnya kerbau yang tidak ada tandingannya di Pulau Perca waktu itu.

Dalam keadaan yang menegangkan itu, pihak orang-orang negeri itupun mengeluarkan kerbaunya pula. Dan alangkah herannya dan kecutnya hati orang banyak itu melihat mereka mengeluarkan seekor anak kerbau. Anak kerbau itu sedang erat menyusu, dan orang tidak tahu, bahwa anak kerbau itu telah bebearapa hari tidak doberi kesempatan mendekati induknya. Ketika melihat kerbau besar di tengah gelanggang anak kerbau itu berlari-lari mendapatkannya yang dikria induknya dengan kehausan yang sangat hendak menyusu. Dimoncongnya terikat sebuah taji atau minang yang sangat tajam. Ia menyeruduk ke bawah perut kerbau besar itu, dan menyinduk-nyinduk hendak menyusu. Maka tembuslah perut kerbau Majapahit, lalu lari kesakitan dan mati kehabisan darah.

Orang-orang Majapahit memprotes mengatakan orang-orang negeri itu curang. Kegaduhan pun terjadi dan hampir saja terjadi pertumpahan darah. Tetapi dengan wibawanya Dt. Katumanggungan dan Dt. Parpatih Nan Sabatang membawa orang-orang itu ke balai persidangan. Disanalah Dt. Parpatih Nan Sabatang menangkis tuduhan-tuduhan orang-orang Majapahit. Akhirnya orang-orang Majapahit pemgakui kealpaan mereka tidak mengemukakan persyaratan-persyaratan antara kedua belah pihak sebelum mengadakan pertandingan.

Sejak itu tempat mengadu kerbau itu sampai sekarang bernama Negeri Minangkabau. Dan kemudian hari setelah peristiwa kemenangan mengadu kerbau dengan Majapahit itu termasyhur kemana-mana, wilayah kekuasaan orang-orang yang bernenek moyang ke Gunung Merapi dikenal dengan Alam Minangkabau. Diceritakan pula kemudian rumah-rumah gadang diberi berginjong seperti tanduk kerbau sebagai lambang kemenangan.

(Sumber : Minangkabau Tanah Pusaka – Tambo Minangkabau)


4. Hubungan Minangkabau dengan Negeri Sembilan Datuk Perpatih nan Sebatang pada zaman dahulu konon kabarnya sudah pernah berlayar dan sampai ke Melaka serta singgah di Negeri Sembilan. Negeri Sembilan sekarang Negeri Sembilan termasuk salah satu negara bagian yang menjadi negara Federasi Malaysia. Sebelah selatannya terletak Gubernemen Melaka sebelah ke timur dengan negara bagian Jojor, sebelah utara dengan Pahang dan sebelah barat dengan Selangor. Dalam tahun 1970 negara bagian yang luasnya 2.580 mil persegi ini mempunyai penduduk lebih dari setengah juta jiwa dengan penduduk berkebangsaan Melayu lebih sedikit dari bangsa Cina.

Mayoritas di Malaysia terdiri dari tiga rumpun bangsa : Melayu, Cina dan Keling. Penduduk bangsa Melayu yang kira-kira seperempat juta itu sebahagian besar masih mempunyai hubungan dengan daerah asalnya yaitu Minangkabau. Masih banyak adat istiadat Minangkabau yang masih belum hilang oleh mereka dan sebagian masih dipergunakan dalam tata cara hidupnya. Malahan beberapa keterangan dan adat-adat yang di Minangkabau sendiri sudah dilupakan pada mereka masih tetap segar dan masih dipergunakan. Hubungan sejarah ini sudah bermula pada pertengahan abad kelima belas.

Patun mereka berbunyi :

Leguh legah bunyi pedati
Pedati orang pergi ke Padang
Genta kerbau berbunyi juga
Biar sepiring dapat pagi
Walau sepinggan dapat petang
Pagaruyung teringat juga

Negeri Sembilan sebuah kerajaan tetapi pemerintahannya berdasarkan Konstitusi yang disana dikatakan Perlembagaan Negeri. Badan Legislatifnya bernama “Dewan Perhimpunan/Perundingan Negeri yang mempunyai anggota 24 orang. Anggota-anggota ini dipilih oleh rakyat dalam Pemilihan Umum yang disini dikatakan : Pilihan raya.

Pelaksanaan pemerintahan dilaksanakan oleh Menteri Besar yang didampingi oleh 8 orang anggotanya yang bernama : “Anggota Majelis Musyawarah Kerajaan Negeri”. Gelaran raja ialah Duli Yang Maha mulia Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan. Dalam tahun 1970 itu yang memerintah ialah : Tuanku Ja’far ibni Almarhum Tuanku Abdul Rahman dan beliau ialah keturunan yang kesebelas dari Raja Malewar yang berasal dari Minangkabau dan memerintah antara tahun 1773 – 1795. Pemerintahan Negeri Sembilan terbagi atas 6 daerah seperti kabupaten di Indonesia, yaitu: Seremban, Kuala Pilah, Port Dickson, Jelebu, Tampin dan Rembau. Ibukotanya ialah Seremban.

Istana raja terdapat di ibukota Seremban ini bernama : Istana Seri Menanti. Tetapi arsitekturnya tidak lagi dengan cara Minang melainkan sudah berkomposisi antara arsitektur Minang dan Melayu. Kedatangan bangsa Minangkabau Sebelum Negeri Sembilan bernama demikian di Melaka sudah berdiri sebuah kerajaan yang terkenal dalam sejarah. Dan pelabuhan Melaka menjadi pintu gerbang untuk menyusup kedaerah pedalaman tanah Semenanjung itu. Maka sebulum berdiri Negeri Sembilan datanglah rombongan demi rombongan dari Minangkabau dan tinggal menetap disini.

Rombongan Pertama Mula-mula datanglah sebuah rombongan dengan pimpinan seorang datuk yang bergelar Datuk Raja dengan isterinya Tok Seri. Tetapi kurang jelas dari mana asal mereka di Minangkabau. Mereka dalam perjalanan ke Negeri Sembilan singgah di Siak kemudian meneruskan perjalanan menyeberang Selat Melaka terus ke Johor. Dari Johor mereka pergi ke Naning terus ke Rembau. Dan akhirnya menetap disebuah tempat yang bernama Londar Naga. Sebab disebut demikian karena disana ditemui kesan-kesan alur naga. Sekarang tempat itu bernama Kampung Galau.

Rombongan Kedua Pimpinan rombongan ini bergelar Datuk Raja juga dan berasal dari keluarga Datuk Bandaro Penghulu Alam dari Sungai Tarab. Rombongan ini menetap disebuah tempat yang kemudian terkenal dengan Kampung Sungai Layang.

Rombongan Ketiga Rombongan ketiga ini datang dari Batu Sangkar juga, keluarga Datuk Makudum Sati di Sumanik. Mereka dua orang bersaudara: Sutan Sumanik dan Johan Kebesaran. Rombongan ini dalam perjalanannya singgah juga di Siak, Melaka, dan Rembau. Kemudian membuat sebuah perkampungan yang bernama Tanjung Alam yang kemudian berganti dengan Gunung Pasir.

Rombongan Keempat Rombongan ini datang dari Sarilamak (Payakumbuh), diketuai oleh Datuk Putih dan mereka menepat pada Sutan Sumanik yang sudah duluan membuka perkampungan di Negeri Sembilan ini. Datuk Putih terkenal sebagai seorang pawang atau bomoh yang ahli ilmu kebatinan. Beliaulah yang memberi nama Seri Menanti bagi tempat istana raja yang sekarang ini.

Kemudian berturut-turut datang lagi rombongan lain-lainnya antaranya yang dicatat oleh sejarah Negeri Sembilan : Rombongan yang bermula mendiami Rembau datangnya dari Batu Hampar (Payakumbuh) dengan pengiringnya dari Batu Hampar sendiri dan dari Mungka.

Nama beliau ialah Datuk Lelo balang. Kemudian menyusul lagi adik dari Datuk Lelo Balang bernama Datuk Laut Dalam dari Kampung Tiga Nenek. Walaupun penduduk Negeri Sembilan mengakui ajaran-ajaran Datuk Perpatih nan Sebatang yang sangat populer disini tetapi mereka tidak membagi persukuan atas 4 bagian seperti di Minagkabau. Mungkin disebabkan situasi dan perkembangannya sebagai kata pepatah :

Dekat mencari suku jauh mencari Hindu, maka suku-suku di Negeri Sembilan berasal dari luhak dari tempat datang mereka itu atau negeri asal datangnya. Berdasarkan asal kedatangan mereka yang demikian terdapatlah 12 suku di Negeri Sembilan yang masing-masing adalah sbb;

1. Tanah Datar
2. Batuhampar
3. Seri Lemak Pahang
4. Seri Lemak Minangkabau
5. Mungka
6. Payakumbuh
7. Seri Malanggang
8. Tigo Batu
9. Biduanda
10. Tigo Nenek
11. Anak Aceh
12. Batu Belang

(Sumber : Minangkabau Tanah Pusaka – Tambo Minangkabau)

Thursday, July 2, 2009

Susunan Keturunan Melayu

Susunan Keturunan Melayu.

Adapun keturunan orang melayu setakat yang diketahui adalah seperti berikut:
(Mengikut aturan)

  • Cilawagi - Nenek Moyang tingkat yang kelima
  • Cakawari - Datuk kepada Moyang
  • Buyut - Orang tua atau ibubapa kepada Moyang
  • Moyang - Bapa atau Ibu kepada Datuk
  • Datuk(atuk)/Nenek(uwan) - Bapa kepada Ayah atau Ibu
  • Bapa/Ibu - Ayah atau Emak
  • Anak - Anda Sendiri
  • Cucu - Keturunan peringkat kedua iaitu peringkat selepas anak
  • Cicit - Anak kepada Cucu
  • Piut/Cece(ce'ce') - Keturunan yang kelima (cucu kepada cucu)
  • Oneng-oneng - one'ng-one'ng (anak piut keturunan yang kelima)

Keturunan ini adalah diantara yang pernah diketahui (sumber-kamus dewan edisi empat).

Ramai diantara kita telah lupa akan keturunan ini dan kata nama bagi panggilannya kerana kebiasaannya semua menggunakan kata singkat kepada kata nama contohnya: 'cucu-cicit' atau 'nenek-moyang' sahaja. Adalah sangat bagus jika ketahui peringat yang teratas sehingga yang terbawah bagi memudahkan kita memanggil dengan pangkat (panggilan hormat) dimana jika mereka itu mengetahui aras kedudukannya didalam sesuatu tingkat keluarga.



Tuesday, April 28, 2009

Keturunan Moyang Kari

Moyang HJ. KARI ( Arwah) menetap di Kg. Sungai Jelutung, Padang Lebar, Negeri Sembilan. Beliau telah mendirikan rumahtangga bersama Moyang HJH. TA'IN dan dikurniakan 4 orang anak. Keluarga ini telah berkembang biak sehingglah hari ini.

Mengikut persukuan, Moyang KARI adalah suku
tiga batu iaitu salah satu suku yang berasal dari sumatera yang berketurunan minangkabau. Orang yang pertama dimana terletak diatas sekali dari keturunan ini adalah bernama HAWA (tiga batu) iaitu adalah moyang kepada Moyang Hj. Kari dimana HAWA mempunyai anak bernama KIRAH (tiga batu)-wan atau nenek kepada Moyang Hj. Kari

Lihat salasilah Moyang Kari di: moyang-kari.myheritage.com

Keturunan yang ada sekarang adalah terdiri dari anak Moyang Hj. Kari bernama ROBIAH atau Che' Yam yang kini tinggal mengikuti anak-anaknya yang berada di Seremban, Kuala Pilah, Felda Serting Hilir dan juga di Sabah. Che' Yam adalah anak yang paling bongsu dari Moyang Hj. Kari.

Selain itu juga ramai lagi diantara cucu beliau yang masih hidup dan menetap di seluruh Malaysia. Sesiapa sahaja yang mengenali dan mengetahui akan sejarah atau pertalian keluarga diantara salasilah ini bolehlah menghubungi saya melalui email : nine_w2ze@yahoo.com.sg dan tandakan dengan tajuk "moyang kari" supaya email Tan Sri/Puan Sri/Dato'/Datin/Tuan/Puan/Sdra/Sdri tidak akan masuk dalam bulk mail saya.

Bagi memastikan salasilah ini terpelihara dengan baik sehingga bila-bila, sila kunjungi website moyang-kari.myheritage.com bagi melihat aktiviti yang akan diadakan. Walau bagaimanapun tarikh,masa dan tempat yang tertera untuk aktiviti tersebut tidaklah tetap kerana ianya akan berubah mengikut kesesuaiannya.

Saya juga mengalu-alukan sebarang komen atau sebarang data yang betul dimana negeri atau daerah tempat tinggal semua yang tertera didalam salasilah tersebut termasuk gambar-gambar lama berkaitan pertalian diantaranya sangat-sangat dialu-alukan.

Buat masa ini saya masih mencari gambar-gambar Moyang Hj. Kari (arwah), anaknya Aziz atau lebih dikenali ulong asin atau hashim (arwah), anaknya Arshad atau ghosad (arwah) dan juga Sa'adiah untuk disimpan didalam ARKIB Keluarga. Saya mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga diatas sumbangan
Tan Sri/Puan Sri/Dato'/Datin/Tuan/Puan/Sdra/Sdri sanak saudara yang bertungkus lumus memberikan idea,gambar-gambar,bantuan kewangan dan sebagainya demi menjayakan Salasilah Moyang Kari ini sehingga kehari ini.

Terima kasih daun keladi, kalau ada sebarang sumber sumbanglah lagi. bak kato pebilang adat;


asal-asal usul-usul,
asal jangan ditanggalkan,
usul jangan dulupokan.

Mengaji dari alip,
membilang dari eso,
berkato dari awal pangka,
tau nan kocik pado nan godang,
tau nan godang pado nan tuo,
tau nan tuo pado nan dulu-dulu,
tau nan dulu pado nek moyang.

pertamo tali pewaris,
keduo tali pusako,
ketigo tali semondo,
tali pewaris jangan putuih,
tali pusako jangan hancor,
tali semondo jangan ditainggal.

sobatang kayu nan luruih,buek turusan,
sebingkah tanah nan terbalik buek pematang,
kayu dah luruih, pematang dah boto,
silawah mudik kehulu,sipalit mudik kehilir,
kebukit samo didaki, kelurah samo diturun,
kelaut samo digonang.

So-padang sopomainan,so-pigi sopomandinan,
sojamban sepegulangan, so-gayung sopogeleran,
so-ciap bak ayam, so-gumpun bak sorai,
so-donting bak bosi,so-susun bak sireh.

Hati gajah samo dilapah, hati tungau samo kito cocah,
kok sikit samo sikit, kok banyak samo banyak,
banyak begimpok, sikit becocah,
sekucung bak air,sobungkuih bak nasik.

pado hari nang sehari ni ah, mako sotuju sebulat kito sado eh,
nak menghidangkan pado datok,socarik sireh,socubit kapor,
suleh pinang. Setoguk air,sekopal nasik,
sudi-sudikanlah..
sado eh yang ado.

kalau nak kona pokok bebuah,
pucuk eh lobek dahan be-daun,
kalau nak tau bangso bertuah,
duduk begadat togak besantun.



Contributors

Followers